Artikel

Prajurit TNI Jadi Guru Dadakan, Bantu Anak-anak Korban Banjir Bandang Tetap Semangat Belajar

16 September 2026 Sulawesi Selatan 8 views

Di tengah pengungsian korban banjir bandang Sulawesi Selatan, prajurit TNI mengubah tenda menjadi kelas darurat dan mengajar anak-anak baca, tulis, hitung serta bermain. Aksi ini tidak hanya menyelamatkan pendidikan yang terputus, tetapi juga menjadi terapi psikologis bagi anak-anak yang trauma. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kehadiran dan perhatian tulus bisa menjadi bentuk bantuan yang paling berarti.

Prajurit TNI Jadi Guru Dadakan, Bantu Anak-anak Korban Banjir Bandang Tetap Semangat Belajar

Bayangin, lagi asyik nyiapin PR matematika, eh tiba-tiba banjir bandang datang dan bikin semuanya berantakan. Sekolah hancur, rumah nggak layak huni, dan yang tersisa cuma tenda pengungsian. Tapi di tengah kekacauan itu, ada secercah harapan yang muncul dari sosok yang nggak terduga: prajurit TNI yang tiba-tiba nongol dengan papan tulis dan berubah jadi guru dadakan. Ini bukan adegan film, melainkan nyata terjadi di pengungsian korban banjir bandang Sulawesi Selatan. Kisah ini viral bukan cuma karena gemes, tapi juga karena mengingatkan kita bahwa bantuan nggak selalu berupa logistik—kadang kehadiran dan perhatian justru yang paling berarti.

Ketika Bencana Datang, Mereka Hadir sebagai Guru Dadakan

Dengan perlengkapan ala kadarnya—papan tulis portable, spidol, dan bahan ajar seadanya—para prajurit ini mengubah ruang kosong di tenda pengungsian jadi kelas pendidikan darurat. Mereka mengajarkan anak-anak baca, tulis, dan berhitung, persis kayak guru pada umumnya. Tapi nggak berhenti di situ, mereka juga ajak anak-anak bermain, bernyanyi, dan tertawa. Tujuannya sederhana tapi dalam: mengalihkan perhatian dari trauma banjir bandang yang masih menghantui, sekaligus memastikan pendidikan mereka nggak putus total. Aksi relawan yang humanis ini nunjukin bahwa membantu itu nggak harus selalu dengan barang, tapi juga dengan waktu dan perhatian.

Lebih dari Sekadar Mengajar, Mereka Menjadi Sahabat Cerita

Di luar tugas utama sebagai penjaga keamanan, para prajurit ini juga berperan sebagai psikolog dadakan dan mentor. Mereka nggak cuma ngajar lalu pulang, tapi duduk, mendengar cerita anak-anak, dan jadi teman yang sabar. Buat anak-anak yang kehilangan tempat bermain, sosok 'kakak' atau 'om' yang datang menghibur bisa jadi penyembuh luka batin yang ampuh. Ini nunjukin bahwa pendidikan darurat nggak cuma soal akademis, tapi juga soal kesehatan mental dan rasa aman. Kehadiran mereka bikin anak-anak ngerasa nggak sendiri, dan itu penting banget di tengah ketidakpastian pascabencana.

Buat kita yang mungkin lagi di rumah dengan adik atau sepupu, coba bayangin kalo mereka harus melalui pengalaman mengungsi yang begitu berat. Kehadiran seorang kakak yang sabar ngajari mereka, atau om yang mau nemenin main, bisa jadi sesuatu yang sangat berarti. Aksi sederhana para prajurit ini ngajarin kita banyak hal, terutama soal kepedulian di sekitar. Bahwa bantuan buat korban banjir bandang nggak melulu soal logistik, tapi juga soal kehadiran yang bikin mereka ngerasa dipedulikan. Pelajaran berharga yang relevan banget buat kita semua: hal terkecil pun, kayak jadi pendengar yang baik buat teman yang lagi kesulitan, bisa berdampak besar. Saling dukung dan dampingi, apapun situasinya, itu yang paling utama.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI

Lokasi: Sulawesi Selatan